3 Cara yang Tepat dalam Mencicipi Anggur – Pernah nggak sih kamu melihat seseorang di restoran memutar-mutar gelas wine mereka, menghirup aromanya dalam-dalam, baru kemudian meminumnya pelan-pelan? Mungkin kelihatan sedikit berlebihan, tapi sebenarnya ada alasan kuat di balik ritual tersebut. Mencicipi anggur bukan cuma soal gaya-gayaan, melainkan teknik untuk membongkar lapisan rasa dan aroma yang sudah tersimpan bertahun-tahun di dalam botol.
Mau kamu baru pertama kali memegang gelas atau sudah mulai hobi mengoleksi, tahu cara “mainnya” bakal bikin pengalaman minum kamu naik kelas. Nggak perlu jadi sommelier profesional kok untuk bisa menikmati wine dengan cara yang benar. Cukup pahami dasar-dasarnya berikut ini.
Langkah Awal: Etika Menuang dan Memegang Gelas

Segalanya dimulai dari botol. Kalau kamu lagi dalam sesi mencicipi (tasting), jangan tuang kepenuhan. Porsi standarnya cukup 75 sampai 90 ml saja. Kenapa? Biar ada ruang udara di dalam gelas untuk aromanya keluar. Kalau cuma buat nongkrong santai, baru deh boleh tuang agak banyak sekitar 150-180 ml.
Satu hal yang paling sering salah adalah cara memegang gelas. Ingat, gelas wine punya tangkai (stem) itu ada fungsinya.
-
Pegang di tangkainya: Gunakan jempol dan telunjuk. Ini kunci supaya suhu wine nggak rusak. Tangan kita itu panas, kalau kamu pegang bagian perut gelasnya, wine yang tadinya dingin bakal cepat hangat dan rasanya jadi berubah.
-
Gelas tanpa tangkai? Kalau pakainya gelas model stemless, usahakan pegang di bagian paling bawah. Intinya, sebisa mungkin minimalisir kontak telapak tangan dengan bagian gelas yang bersentuhan langsung dengan cairan.
Membedah Teknik “5S” yang Legendaris
Di dunia wine, ada aturan main yang dikenal dengan 5S. Ini adalah panduan wajib biar lidah dan hidung kamu bisa menangkap semua detail rasa.
1. See (Melihat)
Jangan buru-buru diminum. Coba perhatikan dulu warnanya di bawah cahaya. Kalau kamu pakai latar belakang putih, warna wine bakal lebih kelihatan jelas. Red wine yang warnanya merah terang biasanya lebih muda, sedangkan yang warnanya cenderung merah bata biasanya sudah berumur. Dari warna saja, kita sudah bisa menebak apakah wine ini disimpan di tong kayu atau punya karakter yang kuat.
2. Swirl (Memutar)
Goyangkan gelasmu perlahan dengan gerakan melingkar. Ini fungsinya untuk “membangunkan” wine alias proses oksidasi. Saat wine berputar dan menyentuh dinding gelas, aromanya bakal terlepas ke udara. Perhatikan juga sisa cairan yang turun di dinding gelas; kalau gerakannya lambat dan kental, biasanya kadar alkoholnya lumayan tinggi.
3. Sniff (Mengendus)
Nah, di sinilah petualangannya. Dekatkan hidung ke mulut gelas, lalu hirup aromanya. Jangan cuma sekali, coba rasakan apakah ada bau buah beri, kayu ek (oak), vanila, atau bahkan aroma bunga. Penciuman itu menyumbang porsi besar dalam cara kita merasakan makanan dan minuman.
4. Sip (Meneguk)
Sekarang waktunya eksekusi. Ambil sesapan kecil, biarkan cairan wine mengalir dan menyentuh seluruh bagian lidahmu.
Trik rahasia: Coba tarik sedikit udara lewat sela bibir saat wine masih ada di mulut. Memang suaranya agak lucu, tapi cara ini efektif banget buat melepaskan rasa yang lebih kompleks ke langit-langit mulut.
5. Savour (Nikmati)
Terakhir, rasakan finish-nya. Setelah ditelan, apakah rasanya langsung hilang atau tertinggal lama di mulut? Wine yang bagus biasanya punya aftertaste yang seimbang—nggak terlalu pahit dan nggak kerasa alkohol banget. Coba tanya ke diri sendiri: rasanya berat atau ringan? Dominan manis atau kering (dry)?
Menikmati wine itu soal rasa dan selera pribadi. Semakin sering kamu mempraktikkan teknik ini, insting kamu bakal makin tajam buat membedakan mana wine yang beneran oke. Jadi, jangan cuma diteguk sampai habis, nikmati setiap detiknya!